Oleh Dr. H. Ikhsan Abdullah, S.H., M.H., Katib Syuriyah PBNU Masa Khidmah 2022-2027
Bismillahirrahmanirrahim.
Senin pagi, 14 September 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 07.45 ketika telepon genggam saya berdering. Panggilan dari Cirebon.
“Kang Ikhsan, saya baru selesai ngaos dan jalan pulang ke rumah dari pondok. Tiba-tiba saya ingat Panjenengan. Tolong tulislah tentang perjalanan khidmah sampean di PBNU.”
Saya terdiam cukup lama.
Suara di ujung telepon itu milik Kiai Haji Mustofa Aqil Siradj, adik guru kita bersama, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj. Putra KH. Aqil Siradj, pendiri Pesantren Khas Kempek Cirebon.
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi bagi saya, justru terasa berat.
Apa yang harus saya tulis? Bukankah selama ini saya merasa belum berbuat banyak untuk jam’iyyah?
Namun, pagi itu saya seperti dipaksa menoleh ke belakang. Mengingat perjalanan yang awalnya sama sekali tidak pernah saya bayangkan: seorang anak kiai langgar kampung, bukan lulusan pesantren besar, tiba-tiba dipercaya duduk di jajaran PBNU dan ikut menyaksikan dari dekat bagaimana para ulama menjaga rumah besar bernama Nahdlatul Ulama.
Berawal dari Ketidaktahuan
Saya masuk jajaran PBNU bukan karena merasa pintar, apalagi alim.
Saya hanya diusulkan seorang kawan. Usulan itu kemudian diterima Rais Aam bersama para formatur hasil Muktamar ke-34 di Lampung.
Awalnya saya mendengar akan ditempatkan sebagai A’wan.
Tetapi ketika SK diterima, jabatan yang tertulis justru Katib Syuriyah PBNU Masa Khidmah 2022-2027.
Saya pun sempat bertanya kepada Abuya KH. Miftachul Akhyar.
“Pangapunten Yai Mif, bukankah saya di jajaran A’wan?”
Beliau tersenyum. “Wong dinaikkan pangkatnya kok yo malah protes?”
Saya tertawa sekaligus pasrah. Amanah itu akhirnya saya terima dengan penuh syukur.
Sebab sejak awal saya memahami satu hal: berada di NU bukan tentang mengejar kedudukan.
Niatnya adalah khidmah. Khidmah kepada agama, bangsa dan negara melalui jalan para ulama.
Duduk di Barisan Para Kiai
Tetapi ketika mulai mengikuti rapat-rapat Syuriyah, rasa minder itu datang.
Bagaimana tidak? Di ruangan itu saya duduk bersama para kiai dan gus. Kultur pesantren begitu terasa. Kedalaman ilmu mereka membuat saya lebih banyak diam daripada berbicara.
Persoalan agama, fikih ekonomi, hukum, sosial hingga masalah kebangsaan dibedah begitu tajam.
Perdebatan berlangsung serius. Argumentasi diuji. Dalil dikaji. Tetapi ketika berbeda pandangan, adab tetap dijaga.
Saya seperti masuk ke sebuah pesantren baru. Hanya saja, kali ini para “gurunya” adalah para kiai yang selama ini saya hormati. Saya memilih duduk di belakang. Mendengarkan. Mencatat. Belajar.
Saya hanyalah anak kiai langgar kampung. Pendidikan saya memang sampai S1, S2 dan S3 di bidang hukum di UI dan Universitas Jember. Tetapi saya bukan lahir dari pesantren besar.
Karena itu, saya merasa lebih tepat menjadi santri baru. Dan justru dari posisi itulah saya menemukan sesuatu yang sangat berharga.
NU ternyata rumah yang begitu luas.
Rumah yang tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang lahir dari pesantren besar, tetapi juga bagi siapa saja yang datang membawa niat untuk berkhidmah.
Ada satu peristiwa kecil yang tidak pernah saya lupakan.
Suatu ketika rapat Syuriyah dipimpin Katib Aam KH. Said Asrori. Setelah agenda selesai, tiba-tiba beliau menunjuk saya.
“Pak Kiai Ikhsan, monggo pimpin doa penutup.” Saya kaget. Di tengah para kiai sepuh dan alim, mengapa saya yang diminta?
“Monggo Yai mawon sing mimpin doa,” jawab saya.
Namun beliau tetap mempersilakan. Saya akhirnya berdiri.
“Bismillah… monggo para Yai kita baca Al-Fatihah… Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar.”
Selesai. Para kiai tersenyum. Saya pun ikut tersenyum.
Dari peristiwa sederhana itu saya belajar: di NU, seseorang tidak harus menjadi yang paling alim untuk berkhidmah. Yang dibutuhkan adalah keikhlasan dan kemauan untuk terus belajar.
Ketika Keputusan Diuji
Tetapi perjalanan khidmah tidak selamanya menghadirkan cerita ringan. Ada saat ketika jam’iyyah diuji oleh perbedaan pandangan mengenai tata kelola organisasi dan arah kebijakan.
Salah satunya muncul dalam polemik kegiatan Akademi NU yang menghadirkan Piter Berkowitch sebagai narasumber. Kehadirannya dipersoalkan karena pandangannya dianggap pro-Zionis dan tidak sensitif terhadap persoalan kemanusiaan Palestina, khususnya Gaza.
Persoalan Palestina sendiri bukan perkara baru bagi NU. Sejak Mbah Wahab Hasbullah, NU memiliki sejarah panjang dalam menyuarakan kemerdekaan Palestina dan menolak penjajahan.
Polemik tersebut kemudian menjadi bagian dari dinamika Rapat Pleno Syuriyah pada 2023. Forum berlangsung panjang. Pandangan disampaikan. Pertimbangan dikaji.
Pada akhirnya, forum menyerahkan keputusan kepada Rais Aam bersama para Wakil Rais Aam untuk mengambil langkah-langkah bijak demi menjaga marwah dan khittah NU.
Di situlah saya menemukan makna sebuah ayat yang kemudian begitu dekat dengan perjalanan khidmah saya:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
Artinya: “Maka apabila kamu telah membulatkan tekad (setelah bermusyawarah), maka bertawakkallah kepada Allah.” (QS Ali Imran: 159)
Ayat itu mengajarkan sesuatu yang ternyata tidak sederhana.
Keputusan mungkin mudah dibuat. Tetapi menjaganya adalah ujian yang sebenarnya.
Di dalam forum, kita boleh berbeda. Boleh berdebat. Boleh mempertahankan argumentasi dengan sungguh-sungguh.
Tetapi setelah musyawarah menghasilkan keputusan, ada amanah berikutnya: menjaganya bersama.
Sebab organisasi tidak hanya dibangun oleh keputusan-keputusan besar. Organisasi juga dibangun oleh kesediaan orang-orang di dalamnya untuk menghormati keputusan yang telah mereka sepakati.
Muktamar dan Pelajaran Terakhir
Allah kembali memberikan amanah.
Pada Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang, saya dipercaya menjadi anggota Steering Committee, Tim Perumus Naskah Materi Muktamar, sekaligus anggota Komisi Organisasi.
Saya menyaksikan bagaimana gagasan, pandangan dan kepentingan yang beragam dipertemukan dalam satu forum besar.
Muktamar kemudian melahirkan sejumlah keputusan penting, antara lain penegasan kembali kedudukan Syuriyah sebagai pemegang otoritas tertinggi jam’iyyah, penguatan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum, serta pengaturan AHWA sebagai perangkat organisasi dalam penyelesaian persoalan hukum jam’iyyah.
Berbagai rumusan strategis tentang persoalan sosial, ekonomi, hukum dan kebangsaan juga menjadi bagian dari hasil Muktamar.
Saya bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari proses tersebut.
Namun, lagi-lagi saya belajar bahwa ujian tidak selalu terjadi ketika forum sedang berlangsung.
Kadang ujian justru datang setelah palu diketuk.
Ketika proses telah selesai dan keputusan telah diambil, muncul dinamika ketika pihak yang sebelumnya mengikuti proses persidangan kemudian menunjukkan sikap berbeda terhadap hasil Muktamar di luar forum.
Di titik itu, saya kembali teringat ayat tadi. Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah. Sebab, kalau keputusan forum tertinggi jam’iyyah tidak dijaga bersama, bagaimana kita menjaga kewibawaan jam’iyyah?
Pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan siapa pun. Bagi saya, itu adalah pertanyaan untuk diri sendiri: Sudahkah saya benar-benar belajar menjadi santri?
Khidmah yang Tak Terlihat
Hari ini saya semakin memahami mengapa para ulama dan kiai dapat berkhidmah dengan begitu tulus.
Mereka tidak selalu mencari panggung. Tidak selalu ingin berada di depan. Bahkan ketika berbicara tentang masa khidmah, semangat yang muncul justru mempercepat pelaksanaan Muktamar.
Masa khidmah hasil Muktamar ke-34 di Lampung sebenarnya lima tahun dan seharusnya berakhir pada Desember 2026. Namun, Muktamar ke-35 akhirnya diselenggarakan lebih awal, pada 27-31 Agustus 2026.
Bagi saya, itu sebuah pelajaran. Sebab khidmah bukan tentang berapa lama seseorang memegang jabatan. Khidmah adalah tentang apa yang dijaga ketika seseorang diberi amanah.
Menjaga adab. Menjaga proses. Menjaga keputusan bersama.
Dan yang paling penting, menjaga agar rumah besar yang diwariskan para ulama tetap menjadi rumah bagi umat.
Mungkin inilah pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari PBNU.
Saya datang sebagai anak kiai langgar kampung. Saya duduk di belakang. Saya lebih banyak mendengar. Saya belajar dari para kiai.
Dan semakin lama saya berada di sana, semakin saya menyadari bahwa ilmu tidak selalu mengajarkan kita bagaimana menjadi yang paling depan.
Kadang ilmu justru mengajarkan kapan harus diam, kapan harus bermusyawarah, kapan harus menerima keputusan, dan kapan harus berdiri untuk menjaganya.
Terima kasih kepada Kiai Haji Mustofa Aqil Siradj yang pagi itu mengingatkan saya untuk menulis.
Terima kasih kepada Abuya KH. Miftachul Akhyar, para masyayikh, para kiai, serta seluruh pihak yang telah memberi kesempatan kepada seorang “santri kampung” untuk belajar di rumah besar NU.
Semoga catatan kecil ini menjadi ibrah.
Sebab pada akhirnya, khidmah bukan tentang nama kita yang dikenang. Khidmah adalah tentang amanah yang tetap terjaga setelah nama kita tidak lagi disebut.
Kekurangan ada pada saya pribadi. Kebenaran hanya milik Allah SWT.










