Wacana lokasi penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tidak lagi semata berbicara soal kota tuan rumah. Yang mulai mengemuka adalah bagaimana sebuah kawasan mampu menghadirkan seluruh kebutuhan muktamirin dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Di tengah berbagai alternatif lokasi yang mengemuka, Pondok Pesantren Al-Hamid Jakarta menawarkan sebuah konsep yang relatif baru dalam penyelenggaraan forum organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yakni One Stop Muktamar Area atau kawasan Muktamar terpadu dalam satu lokasi.
Konsep tersebut menjadi salah satu nilai strategis yang selama ini belum banyak mendapat sorotan. Selama ini, penyelenggaraan Muktamar NU umumnya melibatkan banyak titik kegiatan yang tersebar, mulai dari arena sidang, penginapan peserta, pusat media, hingga fasilitas pendukung lainnya.
Kondisi tersebut kerap menghadirkan tantangan koordinasi, mobilitas, efisiensi anggaran, hingga pengamanan.
Sebaliknya, Al-Hamid menawarkan model yang memusatkan hampir seluruh aktivitas Muktamar dalam satu kawasan yang saling terhubung.
Mulai dari arena sidang pleno, sidang komisi, penginapan peserta, pusat media, sekretariat, layanan kesehatan, area UMKM, fasilitas ibadah hingga ruang terbuka hijau berada dalam satu lingkungan yang terintegrasi.
Model ini dinilai berpotensi menjadi standar baru penyelenggaraan Muktamar NU di masa mendatang apabila mampu diwujudkan secara optimal.
Lebih dari Sekadar Lokasi, Sebuah Ekosistem Muktamar
Keunggulan utama yang ditawarkan bukan semata luas lahan ataupun jumlah bangunan, melainkan efisiensi penyelenggaraan.
Dengan seluruh kebutuhan berada dalam satu kawasan, mobilitas ribuan peserta dapat dipangkas secara signifikan. Waktu perpindahan antaragenda menjadi lebih singkat, koordinasi panitia lebih mudah, sementara aspek keamanan dan pelayanan peserta dapat dikendalikan secara lebih efektif.
Konsep seperti ini lazim diterapkan dalam penyelenggaraan berbagai konferensi internasional modern yang mengedepankan efisiensi operasional sekaligus kenyamanan peserta.
Dalam konteks organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, pendekatan tersebut menjadi menarik karena mampu memadukan aktivitas persidangan, ibadah, penginapan, pelayanan publik, hingga pemberdayaan ekonomi umat dalam satu kawasan.
Jakarta Membawa Nilai Historis Perjalanan Islam Nusantara
Selain menawarkan kesiapan infrastruktur, Jakarta juga memiliki dimensi historis yang kuat dalam perjalanan Islam di Nusantara.
Wilayah ini dikenal sebagai kawasan perjuangan Pangeran Fatahillah atau Pangeran Jayakarta dalam mengusir Portugis, sekaligus menjadi simbol berkembangnya peradaban Islam di tanah Betawi.
Jakarta juga memiliki sejumlah situs keislaman penting, salah satunya kawasan Luar Batang yang menjadi lokasi maqam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus dan hingga kini menjadi tujuan ziarah umat Islam dari berbagai daerah.
Sementara itu, Pondok Pesantren Al-Hamid sendiri merupakan lembaga pendidikan dan dakwah yang dibangun serta diresmikan oleh KH Nurul Huda Jazuli sekitar 14 tahun lalu.
Dalam perjalanannya, pesantren tersebut berkembang menjadi pusat pendidikan, pengkaderan, dakwah, sekaligus pelayanan umat yang terus berkembang.
Akses Transportasi Menjadi Nilai Tambah
Salah satu aspek yang cukup menonjol adalah aksesibilitas. Pondok Pesantren Al-Hamid berada di kawasan Jakarta Timur yang relatif mudah dijangkau dari berbagai wilayah Indonesia.
Lokasinya hanya sekitar 10 menit dari Bandara Halim Perdanakusuma, sekitar lima kilometer dari Stasiun Jatinegara, sekitar satu kilometer dari kawasan Bumi Perkemahan Cibubur, dekat dengan Desa Wisata Cibubur, terhubung langsung dengan Tol Jagorawi, serta berjarak sekitar 17 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Priok.
Keunggulan terakhir menjadi poin yang jarang disorot.
Kedekatan dengan Pelabuhan Tanjung Priok memungkinkan peserta dari luar Pulau Jawa menggunakan moda transportasi laut melalui layanan PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Dengan demikian, peserta memiliki pilihan perjalanan melalui pesawat, kereta api, kendaraan darat maupun kapal laut.
Sekitar 220 Ruangan Siap Mendukung Persidangan
Dari sisi kapasitas, Pondok Pesantren Al-Hamid memiliki sekitar 220 ruangan yang telah dilengkapi pendingin udara, jaringan listrik memadai, serta pasokan air bersih.
Fasilitas tersebut terdiri atas kompleks pendidikan putra meliputi 25 ruang MI, 20 ruang MTs, dan 15 ruang MA.
Sementara kompleks putri memiliki 30 ruang MTs Putri, 20 ruang MA Putri, serta sekitar 60 kamar asrama.
Selain itu tersedia dua gedung MTs, dua gedung MA, dua kompleks asrama putri, serta satu kompleks asrama putra.
Masing-masing gedung juga memiliki aula yang dapat difungsikan sebagai ruang sidang komisi, ruang koordinasi maupun pelayanan peserta.
Aula Besar Hingga Masjid Berkapasitas Ribuan Jamaah
Untuk kebutuhan persidangan, tersedia enam aula utama dengan kapasitas sekitar 500–600 peserta.
Sedangkan Aula G-Sena mampu menampung sekitar 1.000–1.200 peserta sehingga dinilai ideal untuk sidang pleno, seminar nasional, halaqah ulama maupun agenda utama Muktamar.
Fasilitas tersebut didukung ruang VVIP berukuran 24 x 8 meter dengan kapasitas sekitar 100 orang, area lobby dan carport VVIP, lima ruang pendukung yang dapat difungsikan sebagai sekretariat maupun pusat layanan peserta, serta halaman luas yang dapat digunakan sebagai pusat registrasi.
Di sektor ibadah, Masjid Al-Hamid memiliki kapasitas sekitar 1.100–1.200 jamaah.
Adapun Plaza Masjid mampu menampung sekitar 1.200 jamaah tambahan sehingga memungkinkan pelaksanaan pengajian akbar, bahtsul masail, istighatsah maupun agenda keagamaan lainnya.
Ruang Hijau Menjadi Pembeda
Keunggulan lain yang relatif jarang dimiliki kawasan penyelenggara Muktamar adalah keberadaan ruang hijau yang cukup luas.
Kawasan pesantren memiliki hutan jati mini yang menciptakan suasana sejuk sekaligus menjadi paru-paru lingkungan.
Di sisi lain, keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Munjul membuka peluang penyelenggaraan bazar UMKM Nahdliyin, pameran ekonomi kreatif, ruang interaksi peserta hingga kegiatan sosial dan kebudayaan.
Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan arah penguatan ekonomi umat yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu perhatian Nahdlatul Ulama.
Infrastruktur Modern dan Dukungan Pengamanan
Dari sisi teknologi, kawasan Pondok Pesantren Al-Hamid telah didukung jaringan listrik berkapasitas besar, internet fiber optic berkecepatan tinggi, media center modern, pusat komunikasi terpadu, CCTV, sound system profesional, fasilitas percetakan, media digital, sanitasi yang memadai serta dukungan layanan kesehatan.
Sementara aspek keamanan diperkuat oleh kedekatan kawasan dengan berbagai fasilitas TNI, Polri maupun Kodam.
Sistem pengamanan dirancang melibatkan unsur TNI, Polri, Banser, satuan pengamanan internal serta tim pengamanan kawasan yang didukung sistem zonasi, jalur VVIP, pusat komando, CCTV hingga komunikasi terpadu.
Pengalaman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menyelenggarakan berbagai agenda nasional dan internasional juga menjadi modal penting untuk mendukung aspek protokoler, transportasi, keamanan serta pelayanan publik.
Menghidupkan Ekonomi Umat
Apabila Muktamar digelar di Jakarta, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan organisasi, tetapi juga masyarakat.
Sektor perhotelan, transportasi, kuliner, pariwisata, UMKM hingga industri kreatif berpotensi memperoleh manfaat ekonomi dari kedatangan ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Produk khas Betawi seperti bir pletok, kerak telor, gado-gado serta beragam produk UMKM lokal juga memiliki peluang lebih besar untuk diperkenalkan kepada peserta Muktamar.
Di sisi lain, terdapat kerinduan sebagian warga Nahdliyin agar Jakarta kembali menjadi tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama setelah penyelenggaraan terakhir pada tahun 1969.
Momentum tersebut dipandang dapat memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat peradaban Islam Nusantara yang moderat, inklusif, berwawasan kebangsaan, sekaligus menjadi ruang konsolidasi organisasi dalam menghadapi tantangan zaman.
Menawarkan Standar Baru Muktamar NU
Jika seluruh kesiapan tersebut dapat dimaksimalkan, Pondok Pesantren Al-Hamid tidak hanya menawarkan lokasi penyelenggaraan Muktamar.
Pesantren ini menawarkan sebuah model baru penyelenggaraan forum nasional Nahdlatul Ulama yang memadukan efisiensi, integrasi, kenyamanan, keamanan, pemberdayaan ekonomi umat, serta penguatan nilai-nilai keislaman dalam satu kawasan.
Dengan sekitar 220 ruangan ber-AC, penginapan peserta, aula berkapasitas besar, masjid dan plaza yang luas, area parkir representatif, lingkungan hijau, infrastruktur digital modern, akses transportasi darat, udara, kereta api dan laut yang lengkap, serta dukungan keamanan dan pemerintah, Pondok Pesantren Al-Hamid menempatkan dirinya sebagai salah satu kandidat yang menawarkan pendekatan berbeda dalam penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama.
Sebagaimana slogan yang diusung penyelenggara, “Muktamar NU di Jakarta: Bersatu dalam Satu Kawasan, Menguatkan Jam’iyah, Merawat Tradisi, Menjemput Peradaban.”
PBNU telah menetapkan Tim Survei Lokasi Muktamar Ke-35 NU yang akan digelar pada 1-5 Agustus 2026.
Pembentukan tim tersebut merupakan salah satu tindak lanjut hasil Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, pada 20-22 Juni 2026 lalu.
Tim survei akan meninjau sejumlah pondok pesantren, yakni Pondok Pesantren Syekh Al-Falah di Padang, Sumatra Barat; Pondok Pesantren Al-Hamid dan Pondok Pesantren Daarurrahman di Jakarta; Pondok Pesantren Buntet, Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, dan Pondok Pesantren Kempek di Cirebon, Jawa Barat; serta Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur.






