Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, perhatian publik mulai mengarah pada figur yang akan menduduki jabatan Rois Aam PBNU.
Di tengah berbagai tantangan keumatan, posisi ini dinilai akan menentukan arah keagamaan, kebangsaan, sekaligus masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Berbeda dengan jabatan struktural lainnya, Rois Aam merupakan pemegang otoritas tertinggi dalam kepemimpinan Syuriyah.
Keputusan-keputusannya bukan hanya menjadi pedoman internal organisasi, tetapi juga menjadi rujukan jutaan warga Nahdliyin dalam menyikapi persoalan keagamaan, sosial, hingga kebangsaan.
Karena itu, proses pemilihannya dinilai tidak cukup bertumpu pada popularitas ataupun keseimbangan politik internal.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan pemimpin tertinggi NU benar-benar memiliki kapasitas keilmuan, integritas moral, pengalaman organisasi, serta keberanian menjaga independensi ulama dalam kehidupan berbangsa.
Katib Syuriyah PBNU sekaligus Pembina Yayasan Generasi Al-Qur’an, Dr. H. Ikhsan Abdullah, SH, MH, menilai terdapat lima kriteria mendasar yang semestinya menjadi acuan para masyayikh dalam memilih Rois Aam pada Muktamar ke-35.
“Sebagai pimpinan tertinggi jam’iyyah dan pengendali arah organisasi, Rois Aam memiliki peran strategis. Rois Aam bukan hanya simbol keulamaan, tetapi juga penentu kebijakan syar’i dan moral organisasi. Karena itu, perlu ada kesepakatan kriteria yang jelas agar sosok yang terpilih benar-benar mencerminkan Ahlu al-Halli wal ‘Aqdi,” ujar Ikhsan di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Ahli Fiqih
Kriteria pertama adalah memiliki kapasitas sebagai fukaha atau ahli fiqih.
“Rois Aam harus memiliki kedalaman ilmu agama, khususnya di bidang fiqih. Beliau diharapkan mampu menjadi rujukan umat dalam persoalan ibadah, muamalah, dan masalah-masalah kontemporer dengan berpijak pada manhaj Aswaja,” katanya.
Menurut Ikhsan, kekuatan keilmuan menjadi fondasi utama agar Rois Aam mampu memberikan panduan syariat atas berbagai persoalan baru yang terus berkembang di masyarakat.
Paham Organisasi
Kriteria berikutnya ialah memahami dinamika organisasi Nahdlatul Ulama yang memiliki struktur hingga tingkat ranting.
“NU adalah organisasi besar dengan struktur dari PBNU hingga Ranting sampai akar rumput. Oleh karena itu Rois Aam harus memahami kultur, sistem, dan dinamika organisasi NU, serta memiliki pengalaman nyata dalam menggerakkan jam’iyyah,” ujar Ikhsan.
Pengalaman tersebut dinilai penting agar kepemimpinan Syuriyah mampu menyatukan gerak organisasi sekaligus menjaga tradisi keilmuan pesantren yang menjadi identitas NU.
Total Mengabdi
Ikhsan menegaskan jabatan Rois Aam bukan sekadar simbol, tetapi amanah yang menuntut pengabdian penuh.
“Jabatan Rois Aam menuntut dedikasi penuh. Dibutuhkan sosok yang bersedia mewakafkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mengurus umat dan organisasi, bukan sekadar formalitas.”
Selain itu, calon Rois Aam juga wajib memenuhi seluruh persyaratan organisasi.
“Calon harus memenuhi seluruh persyaratan yang telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU, termasuk kapasitas keilmuan, pengalaman, dan integritas. Serta memiliki wawasan kebangsaan yang luas.”
Hubungan dengan Negara
Menurut Ikhsan, syarat terakhir justru menjadi yang paling menentukan karena berkaitan dengan posisi ulama dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan umat dan negara.
“Rois Aam harus mampu menjaga komunikasi dan hubungan baik dengan Umaro atau Pemerintah demi kemaslahatan bangsa. Di samping harus tetap kritis dan berani bersikap ketika ada kebijakan negara yang tidak berpihak kepada rakyat, tidak melindungi Umat atau berpotensi merugikan negara. Ini adalah cerminan semangat Hubbul Wathon Minal Iman dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar,” pungkasnya.
Pandangan tersebut menegaskan hubungan ulama dan pemerintah harus dibangun dalam semangat kemitraan yang saling menguatkan, namun tetap menjaga independensi moral untuk menyampaikan kritik ketika kepentingan rakyat, umat, maupun bangsa terancam.
Di tengah dinamika politik nasional, kapasitas menjaga keseimbangan inilah yang dinilai menjadi syarat paling krusial bagi seorang Rois Aam.
Menutup pandangannya, Ikhsan berharap Muktamar ke-35 NU melahirkan pemimpin yang mampu menjaga marwah organisasi sekaligus menjawab tantangan zaman.
“Dengan kriteria ini, diharapkan proses pemilihan Rois Aam di Muktamar NU yang ke-35 nanti akan menghasilkan pemimpin yang tidak hanya alim, tetapi juga bijak, berpengalaman, dan memiliki komitmen kebangsaan. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada para masyayikh dan pengurus untuk memilih pemimpin terbaik bagi NU dan umat,” tambahnya.





