• Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Tentang Kami
Selasa, Juli 21, 2026
  • Login
ihwnews.com
  • News
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Digital
    • Energi
  • Kesehatan
    • Farmasi
    • Kosmetika
  • Industri
    • Agrikultural
    • Otomotif
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Teknologi
    • Lifetech
No Result
View All Result
  • News
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Digital
    • Energi
  • Kesehatan
    • Farmasi
    • Kosmetika
  • Industri
    • Agrikultural
    • Otomotif
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Teknologi
    • Lifetech
No Result
View All Result
ihwnews.com
Beranda Opini

7 Kriteria Ketua Umum PBNU Menuju Abad Ke-2

Muktamar 35 Harus Lahirkan Pemimpin yang Melek Zaman, Berakar di Pesantren

Abu Abdurrahman Oleh Abu Abdurrahman
4 hari lalu
A A
Dr. Ikhsan Abdullah, Khatib Syuriyah NU.(Foto: Istimewa)

Dr. Ikhsan Abdullah, Khatib Syuriyah NU.(Foto: Istimewa)

Bagikan ke WA TemanmuShare on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dr H. Ikhsan Abdullah, SH. MH.. Katib Syuriyah PBNU

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), perhatian publik umumnya tertuju pada siapa saja tokoh yang berpeluang memimpin organisasi Islam terbesar di dunia itu. Namun, di balik dinamika tersebut, terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan strategis: pemimpin seperti apa yang dibutuhkan NU untuk memasuki abad keduanya?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena Muktamar ke-35 yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, pada 27 Juli hingga 1 Agustus 2026 bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan.

Baca juga

Ikhsan Abdullah Ingatkan Bahaya Intervensi Pemodal di Muktamar NU, Ini Solusi Putus Politik Uang

Ikhsan Abdullah Ingatkan Bahaya Intervensi Pemodal di Muktamar NU, Ini Solusi Putus Politik Uang

3 Juli, 2026
Dari Ploso ke Muktamar: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Dari Ploso ke Muktamar: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

26 Juni, 2026

Santri Nurul Ikhsan Gelar Aksi Peduli Lingkungan Bersama Warga Jagapura Wetan

16 November, 2025

Muktamar kali ini menjadi titik awal perjalanan NU memasuki abad kedua, sebuah fase yang menghadapkan organisasi pada tantangan yang jauh berbeda dibanding satu abad sebelumnya.

Jika pada abad pertama NU berperan besar menjaga agama, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta membangun kehidupan kebangsaan, maka abad kedua menuntut kapasitas yang lebih luas. NU kini berhadapan dengan disrupsi teknologi, kecerdasan buatan (AI), perubahan geopolitik, krisis iklim, hingga persaingan ekonomi global yang akan memengaruhi kehidupan umat.

Selama ini diskursus Muktamar lebih sering berkisar pada peta dukungan, peluang kandidat, maupun dinamika politik internal. Padahal, yang lebih menentukan justru adalah kompetensi pemimpin untuk membawa NU menghadapi perubahan peradaban global.

Dari Politik Organisasi ke Politik Peradaban

Muktamar ke-35 memiliki makna strategis karena menentukan arah NU dalam 100 tahun mendatang.

Jika Abad pertama NU dihabiskan untuk menjaga agama, bangsa, dan negara, maka Abad kedua menuntut peran yang lebih luas: menjaga peradaban, menjawab tantangan global, dan menguatkan kemandirian umat.

Pernyataan tersebut menunjukkan kepemimpinan NU ke depan tidak lagi cukup diukur dari kemampuan mengelola organisasi semata, tetapi juga dari kapasitas membaca arah perubahan dunia.

Dengan kata lain, Muktamar kali ini bukan sekadar memilih Ketua Umum PBNU, melainkan menentukan bagaimana NU akan memosisikan diri di tengah perubahan lanskap global.

Kiai yang Mampu Membaca Dunia

Dalam pandangan penulis, syarat pertama yang harus dimiliki Ketua Umum PBNU adalah memiliki akar kuat di dunia pesantren sekaligus memiliki wawasan internasional.

Pemimpin NU harus mampu berbicara tentang geopolitik, ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan krisis iklim. Ia harus menjadi sosok yang didengar di majelis taklim sekaligus di forum internasional.

Poin ini menarik karena menunjukkan adanya pergeseran paradigma kepemimpinan NU. Jika sebelumnya legitimasi lebih banyak lahir dari otoritas keilmuan keagamaan, kini legitimasi itu juga dituntut mampu menjawab isu-isu global yang memengaruhi kehidupan umat.

Di tengah era digital, isu AI, keamanan siber, ekonomi hijau, hingga transformasi industri halal menjadi bagian dari tantangan yang tidak bisa dihindari organisasi keagamaan.

Kepemimpinan Tidak Cukup Karismatik

Ketua Umum PBNU harus memiliki kemampuan manajerial yang kuat.

Menurutnya, PBNU bukan lagi organisasi sederhana, melainkan institusi besar yang membawahi 34 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), ratusan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), ribuan lembaga, serta berbagai aset dan program berskala nasional.

Karena itu, pemimpin NU harus mampu menjalankan tata kelola organisasi secara transparan, akuntabel, dan visioner.

Namun, kemampuan administratif saja tidak cukup. Namun di sisi lain, ia juga harus menjadi pemimpin spiritual yang menjadi rujukan. Keseimbangan antara ‘kepala’ dan ‘hati’ ini sangat penting agar organisasi tidak kehilangan ruhnya.

Menyatukan Tiga Kekuatan Besar NU

Salah satu tantangan terbesar NU saat ini adalah menjaga harmoni di tengah keberagaman warganya.

NU menaungi berbagai kelompok, mulai dari ulama pesantren, pejabat negara, akademisi, profesional hingga generasi muda.

Karena itu, penulis menilai Ketua Umum PBNU harus mampu menjadi jembatan bagi seluruh elemen tersebut.

Ketua Umum yang ideal adalah yang dipercaya pemerintah menjaga Kemandirian NU tapi memiliki akses ke Pemerintah dalam urusan menjaga moral kebangsaan, dihormati pesantren karena keilmuannya, dan diterima anak muda karena cara komunikasinya.

Penulis mengingatkan tanpa kemampuan menyatukan tiga kekuatan besar tersebut, NU berpotensi menghadapi fragmentasi internal.

Kemandirian Ekonomi Jadi Agenda Strategis

Pandangan lain yang menjadi sorotan adalah pentingnya membangun kemandirian ekonomi NU. Memasuki abad kedua, organisasi tidak boleh terus bergantung pada bantuan pemerintah ataupun pihak ketiga.

Penulis mendorong kepemimpinan baru memiliki peta jalan yang jelas untuk memperkuat koperasi, pesantrenpreneur, Badan Usaha Milik Nahdlatul Ulama (BUMNU), wakaf produktif, hingga investasi sebagai sumber pembiayaan organisasi.

Langkah tersebut dinilai penting agar berbagai program NU dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa bergantung pada perubahan kebijakan politik.

NU Harus Memimpin Percakapan Global

Selain memperkuat organisasi di dalam negeri, penulis juga melihat peluang besar NU tampil sebagai aktor penting dalam diplomasi kemanusiaan dunia.

Menurutnya, kontribusi NU dalam moderasi beragama, toleransi, dan Islam Nusantara telah menarik perhatian komunitas internasional.

Karena itu, Ketua Umum PBNU mendatang perlu membawa pengalaman tersebut ke tingkat global.

Ketua Umum harus mampu membawa isu-isu tersebut ke forum global. Menjadikan NU sebagai rujukan solusi atas masalah kemanusiaan, perdamaian, dan lingkungan. NU harus tampil bukan hanya sebagai ormas terbesar, tapi juga sebagai pelopor peradaban.

Lebih Penting dari Popularitas

Penulis mengingatkan agar Muktamar tidak terjebak pada pertarungan popularitas maupun kekuatan modal.

Muktamar di Tambak Beras Bahrul Ulum Jombang adalah pengingat untuk ‘kembali ke-Ruh para Muassis’. Karena itu, proses pemilihan Ketua Umum jangan terjebak pada popularitas dan Capital.

Penulis menegaskan warga NU perlu mencari sosok yang benar-benar mencerminkan nilai-nilai dasar organisasi.

Tugas kita bersama adalah mencari figur yang paling ‘NU’: berilmu, berakhlaq, berwawasan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Keputusan Muktamar ke-35 bukan hanya menentukan kepemimpinan lima tahun mendatang, tetapi menjadi fondasi perjalanan NU dalam satu abad ke depan. Sebab keputusan di Muktamar 35 ini bukan hanya menentukan 5 tahun ke depan. Tetapi juga menentukan arah NU untuk 100 tahun ke depan.

Wallahu a’lam bishawab.

Tags: Ketua UmumMuktamar NUPBNU

Berita Terkait

Ikhsan Abdullah Ingatkan Bahaya Intervensi Pemodal di Muktamar NU, Ini Solusi Putus Politik Uang
News

Ikhsan Abdullah Ingatkan Bahaya Intervensi Pemodal di Muktamar NU, Ini Solusi Putus Politik Uang

3 Juli, 2026
Dari Ploso ke Muktamar: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan
News

Dari Ploso ke Muktamar: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

26 Juni, 2026
Santri Nurul Ikhsan Gelar Aksi Peduli Lingkungan Bersama Warga Jagapura Wetan
News

Santri Nurul Ikhsan Gelar Aksi Peduli Lingkungan Bersama Warga Jagapura Wetan

16 November, 2025
Dari Ploso ke Muktamar: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

7 Kriteria Ketua Umum PBNU Menuju Abad Ke-2

17 Juli, 2026
Ponpes Al-Hamid Siapkan Muktamar NU Terpadu di Jakarta, Konsep Ini Bisa Ubah Standar Penyelenggaraan Nasional

Ponpes Al-Hamid Siapkan Muktamar NU Terpadu di Jakarta, Konsep Ini Bisa Ubah Standar Penyelenggaraan Nasional

4 Juli, 2026
Ikhsan Abdullah Ingatkan Bahaya Intervensi Pemodal di Muktamar NU, Ini Solusi Putus Politik Uang

Ikhsan Abdullah Ingatkan Bahaya Intervensi Pemodal di Muktamar NU, Ini Solusi Putus Politik Uang

3 Juli, 2026
Dari Ploso ke Muktamar: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Dari Ploso ke Muktamar: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

26 Juni, 2026
PUISI – Dari Ploso Menuju Muktamar NU

PUISI – Dari Ploso Menuju Muktamar NU

26 Juni, 2026
Minta Pelaku Dikebiri, Ikhsan Abdullah Kecam Kekerasan Seksual Puluhan Santriwati di Pati

Minta Pelaku Dikebiri, Ikhsan Abdullah Kecam Kekerasan Seksual Puluhan Santriwati di Pati

8 Mei, 2026
Dari Ploso ke Muktamar: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

7 Kriteria Ketua Umum PBNU Menuju Abad Ke-2

17 Juli, 2026
Ponpes Al-Hamid Siapkan Muktamar NU Terpadu di Jakarta, Konsep Ini Bisa Ubah Standar Penyelenggaraan Nasional

Ponpes Al-Hamid Siapkan Muktamar NU Terpadu di Jakarta, Konsep Ini Bisa Ubah Standar Penyelenggaraan Nasional

4 Juli, 2026
Ikhsan Abdullah Ingatkan Bahaya Intervensi Pemodal di Muktamar NU, Ini Solusi Putus Politik Uang

Ikhsan Abdullah Ingatkan Bahaya Intervensi Pemodal di Muktamar NU, Ini Solusi Putus Politik Uang

3 Juli, 2026
Dari Ploso ke Muktamar: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Dari Ploso ke Muktamar: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

26 Juni, 2026
PUISI – Dari Ploso Menuju Muktamar NU

PUISI – Dari Ploso Menuju Muktamar NU

26 Juni, 2026
Minta Pelaku Dikebiri, Ikhsan Abdullah Kecam Kekerasan Seksual Puluhan Santriwati di Pati

Minta Pelaku Dikebiri, Ikhsan Abdullah Kecam Kekerasan Seksual Puluhan Santriwati di Pati

8 Mei, 2026

HUBUNGI KAMI

Alamat: Park Tower, 10th Floor, Unit A-01
Jl. Kebon Sirih Raya No.17-19 Jakarta Pusat 10340
Indonesia

Kanal Berita

  • Digital
  • Ekonomi
  • Energi
  • Fashion
  • Home
  • Industri
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Lifestyle
  • News
  • Opini
  • Otomotif
  • Teknologi

Laman

  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Hubungi Kami

© 2025 IHWNews - Indonesia Halal Watch (IHW). All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Powered by
...
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by
No Result
View All Result
  • News
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Digital
    • Energi
  • Kesehatan
    • Farmasi
    • Kosmetika
  • Industri
    • Agrikultural
    • Otomotif
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Teknologi
    • Lifetech

© 2025 IHWNews - Indonesia Halal Watch (IHW). All Rights Reserved.